ZUBAIR BIN AWWAM
Zubair bin Awwam bin
Khuwailid merupakan putra dari bibi Rasulullah yaitu bernama Shafiyah binti
Abdil Muthalib. Zubair bin Awwam termasuk salah satu orang yang dijamin masuk
surga.
Zubair bin Awwam
dilahirkan pada tahun ke 28 sebelum Hijrah. Zubair masuk Islam di Makkah.
Zubair masuk Islam pada usia 8 tahun atau ada pula pendapat yang menyebutkan
Zubair masuk Islam pada usia 15 tahun.
Kaum kafir Quraisy dan
keluarga Zubair marah ketika mengetahui Zubair masuk Islam. Paman Zubair menggulung
badan Zubair dengan tikar, lalu dipanaskan dengan api. Penyiksaan tersebut
dilakukan agar Zubair kembali kepada agama nenek moyangnya. Namun, dengan
keyakinan yang sangat kuat Zubair menolak dan berkata dengan suara yang keras “Aku
tidak akan kembali kepada kekufuran selama-lamanya”.
Zubair tetap teguh
pendirian untuk mempertahankan keislamannya, sehingga orang-orang musyrik pun
terus memberikan banyak siksaan. Ketika kaum muslimin berhijrah ke Habasiyah,
Zubair pun ikut berhijrah ke Habasiyah. Kemudian Zubair menikah dengan putri
Abu Bakar yaitu bernama Asma binti Abu Bakar.
Zubair kemudian berhijrah
bersama kaum muslimin ke Madinah dengan tujuan agar Zubair dapat memulai
perjuangan di jalan Allah melawan pasukan musyrikin dan kafir. Perang-perang
yang diikuti oleh Zubair bin Awwam yaitu:
a. Perang Badar
b. Perang Uhud
c. Perang Khandaq
d. Perang Yarmuk
e. Perang Jamal
Sejak masuk Islam, Zubair
tidak pernah jauh dari Rasulullah Saw. Ia tidak rela jika ada orang yang
menyakiti Rasulullah. Ia sangat mencintai Rasulullah SAW dan selalu
melindunginya. Karenanya, Ia pun diberi julukan pembela Nabi karena Ia adalah
orang pertama yang menghunuskan pedangnya demi membela Rasulullah SAW.
Dari Aurah dan Ibnu al-Musayyib keduanya berkata, “Laki-laki pertama yang
menghunuskan pedangnya di jalan Allah adalah Zubair.” itu terjadi saat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganggu, lalu ia menghunuskan
pedangnya kepada orang-orang yang mengganggu Nabi.
Zubair bin Awwam pun di juluki
Hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hawari artinya yaitu pengikut setia. Dari Jabir bin
Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
di hari Perang Ahzab, “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair
menjawab, “Saya (ya Rasulullah)” Beliau kembali bertanya, “Siapa yang akan
memerangi Bani Quraidhah?” Zubair kembali merespon, “Saya” Lalu
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (teman-teman
setia), dan hawariku adalah Zubair.”
Setelah Rasulullah wafat,
kekhalifahan (kepemimpinan) pun dipegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan
diteruskan oleh Umar bin Khattab. Pada masa tersebut, Zubair merupakan seorang
tentara.
Zubair dapat mengalahkan
kaum musyrikin dan menaklukan sejumlah negeri, lalu para penduduk di
negeri-negeri tersebut pun masuk ke dalam agama Allah secara
berbondong-bondong.
Zubair merupakan sosok
orang yang dermawan, sering bersedekah dan telah membagikan seluruh hartanya
kepada orang-orang fakir.
Setelah terbunuhnya Utsman
bin Affan, Zubair dan Thalhah berperang melawan Ali bin Abi Thalib dalam sebuah
perang. Perang tersebut dinamakan perang Jamal. Perang ini merupakan perang
pertama antar sesama muslim, dan dinamakan sebagai perang saudara.
Ali bin Abi Thalib pun
menemui Zubair kemudian berkata “Wahai Zubair, tidakkah kamu mendengar
perkataan Rasulullah saw. Yang ditujukan untuk mu ‘Sesungguhnya kamu akan
memerangi Ali (saat itu) kamu berbuat dzalim kepadanya”
Setelah mendengarkan
perkataan Ali, Zubair pun langsung teringat dengan ucapan Rasulullah tersebut.
Maka Zubair dan Thalhah pun segera mundur dari medan perang.
Akan tetapi, para pembuat
fitnah menolak untuk mundur dari
perang. Para pembuat fitnah akan mundur dari perang apabila telah membunuh
Zubair dan Thalhah. Para pembuat fitnah pun pertama kali membunuh Thalhah.
Kemudian ketika Zubair
sedang shalat, tiba-tiba seorang laki-laki bernama Amr bin Jurmuz melemparkan
anak panah ke arah Zubair. Hingga akhirnya Zubair pun terbunuh. Zubair
meninggal pada usia 66 atau 67 tahun.
Kabar wafatnya Zubair membawa duka mendalam bagi amirul mukminin Ali bin
Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Nerakalah bagi pembunuh putra
Shafiyyah ini.” Saat pedang Zubair dibawakan ke hadapannya, Ali pun menciumi
pedang tersebut sambil berurai air mata, lalu berucap “Demi Allah, pedang yang
membuat pemilikinya mulia (dengan berjihad) dan dekat dengan Rasulullah
(sebagai hawari)
Setelah jasadnya selesai dimakamkan, Ali mengucapkan kalimat perpisahan
kepada Zubair, “Sungguh aku berharap bahwa aku, Thalhah, Zubair, dan Utsman
termasuk orang-orang yang difirmankan Allah,
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ
إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ
“Dan Kami lenyapkan segala rasa
dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk
berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)
Ali menatap kubur Thalhah dan Zubair sambil mengatakan,
“Sungguh kedua telingaku ini mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Thalhah dan Zubair berjalan di surga.”
Jasad Zubair dikuburkan di samping
jasad Thalhah agar mereka dapat berdampingan sebagaimana ketika masih berada di
dunia. Mereka telah menjadi dua orang yang bersaudara. Mereka akan menjadi
tetangga Rasulullah di dalam surga. Sebagaimana sabda Rasulullah “ Thalhah dan
Zubair adalah dua tetanggaku di surga”.

